Akhlak Mulia dalam Islam: Fondasi Keimanan dan Kunci Keselamatan


Akhlak mulia dalam Islam adalah buah dari aqidah yang benar dan ibadah yang lurus. Artikel ini membahas pengertian akhlak, dalil Al-Qur’an dan Sunnah, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sesuai manhaj Salaf.


Pendahuluan

Akhlak memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Ia bukan sekadar pelengkap, namun inti dari kesempurnaan iman seorang Muslim. Bahkan Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa misi utama beliau diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Di zaman yang penuh fitnah dan kerusakan moral, pembahasan tentang akhlak Islami menjadi semakin penting, agar kaum Muslimin kembali menata diri sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan pemahaman para Salafus Shalih.


Pengertian Akhlak dalam Islam

Secara bahasa, akhlak berasal dari kata khuluq yang bermakna tabiat atau perangai.
Secara istilah, para ulama menjelaskan bahwa akhlak adalah:

Sifat yang tertanam dalam jiwa, yang darinya muncul perbuatan dengan mudah tanpa perlu dipikirkan lagi.

Akhlak dalam Islam bersumber dari wahyu, bukan semata adat, budaya, atau perasaan manusia. Baik dan buruknya akhlak ditentukan oleh syariat, bukan oleh hawa nafsu.


Kedudukan Akhlak dalam Al-Qur’an dan Sunnah

1. Akhlak Rasulullah ﷺ

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)

Ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam akhlak, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.

2. Tujuan Diutusnya Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad, dishahihkan oleh para ulama)

Hadits ini menjadi dalil bahwa akhlak adalah pilar utama dalam dakwah Islam.


Hubungan Akhlak dengan Aqidah dan Ibadah

Akhlak yang mulia tidak akan tegak tanpa aqidah yang benar. Manhaj Salaf menegaskan bahwa:

  • Aqidah yang lurus akan melahirkan akhlak yang baik
  • Ibadah yang benar akan mencegah dari akhlak yang buruk

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Maka kesalahan akhlak seringkali berakar dari rusaknya aqidah atau lemahnya ibadah.


Contoh Akhlak Mulia dalam Islam

1. Akhlak kepada Allah

  • Ikhlas dalam beribadah
  • Bertawakal dan ridha terhadap takdir
  • Takut dan berharap hanya kepada Allah

2. Akhlak kepada Rasulullah ﷺ

  • Mencintai beliau di atas segalanya
  • Mengikuti sunnahnya
  • Mendahulukan hadits shahih daripada pendapat siapa pun

3. Akhlak kepada Sesama Manusia

  • Jujur dan amanah
  • Lemah lembut dan tidak sombong
  • Menjaga lisan dari ghibah dan dusta
  • Berbuat baik kepada orang tua, tetangga, dan kaum Muslimin

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Tirmidzi)


Cara Memperbaiki Akhlak Menurut Manhaj Salaf

  1. Memperbaiki aqidah sesuai Al-Qur’an dan Sunnah
  2. Menuntut ilmu syar’i dari para ulama yang lurus akidahnya
  3. Mujahadah melawan hawa nafsu
  4. Meneladani akhlak Nabi ﷺ dan para sahabat
  5. Berdoa kepada Allah agar diberi akhlak yang baik

Rasulullah ﷺ sering berdoa:

“Ya Allah, tunjukilah aku kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau.”
(HR. Muslim)


Penutup

Akhlak mulia adalah cermin keimanan dan bukti kebenaran Islam dalam kehidupan nyata. Dakwah yang paling menyentuh bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan akhlak yang mencerminkan sunnah Rasulullah ﷺ.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang berakhlak mulia, istiqamah di atas manhaj Salaf, dan menjadi sebab hidayah bagi orang lain. Aamiin.

Fikih Islam Menurut Manhaj Salaf: Panduan Lengkap Memahami Ibadah Sesuai Sunnah

Fikih Islam Menurut Manhaj Salaf | Panduan Ibadah Sesuai Sunnah

Artikel fikih Islam menurut manhaj Salaf yang membahas pengertian fikih, sumber hukum, adab berfikih, dan pentingnya ittiba’ dalam beribadah sesuai Al-Qur’an dan Sunnah.

Pendahuluan: Pentingnya Fikih dalam Kehidupan Seorang Muslim

Fikih merupakan bagian penting dalam agama Islam. Dengannya, seorang muslim mengetahui bagaimana cara beribadah dengan benar, sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Namun fikih tidak berdiri sendiri; ia dibangun di atas aqidah yang lurus dan manhaj yang benar. Oleh karena itu, memahami fikih menurut manhaj Salafush Shalih adalah kebutuhan mendesak di tengah banyaknya perbedaan dan kekeliruan dalam beragama.

Para ulama Salaf sangat menekankan agar ilmu fikih dipelajari dengan dalil, dipahami dengan pemahaman para sahabat, serta diamalkan dengan ikhlas dan ittiba’.

Pengertian Fikih dalam Islam

Secara bahasa, fikih berarti memahami. Adapun secara istilah, para ulama mendefinisikan fikih sebagai:

“Ilmu tentang hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliyah, yang diambil dari dalil-dalilnya yang terperinci.”

Dengan demikian, fikih berkaitan dengan amal perbuatan, seperti shalat, puasa, zakat, haji, muamalah, nikah, dan lain-lain.

Kedudukan Ilmu Fikih dalam Islam

Fikih memiliki kedudukan yang sangat mulia. Allah Ta’ala berfirman:

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama (liyatafaqqahu fid-din).” (QS. At-Taubah: 122)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.”

Hadits ini menunjukkan bahwa faham agama (fikih) adalah tanda kebaikan dari Allah bagi seorang hamba.

Sumber Hukum Fikih Menurut Manhaj Salaf

Fikih dalam Islam dibangun di atas sumber-sumber yang jelas dan terjaga:

  1. Al-Qur’an
  2. As-Sunnah yang shahih
  3. Ijma’ para sahabat dan ulama Salaf
  4. Qiyas yang shahih

Manhaj Salaf menolak mendahulukan akal, perasaan, atau kebiasaan di atas dalil. Kaidah mereka sangat jelas:

“Jika telah datang dalil, maka tidak ada pilihan selain mendengar dan taat.”

Fikih, Ittiba’, dan Larangan Taqlid Buta

Ahlus Sunnah wal Jama’ah berada di tengah-tengah antara dua sikap ekstrem:

  • Menolak pendapat ulama secara mutlak
  • Atau fanatik buta terhadap madzhab tertentu

Manhaj yang benar adalah menghormati para ulama, mengambil manfaat dari ijtihad mereka, namun tetap mengikuti dalil jika telah jelas kebenarannya.

Para imam madzhab sendiri telah berwasiat agar meninggalkan pendapat mereka jika bertentangan dengan hadits yang shahih.

Adab Berfikih Menurut Ahlus Sunnah

Di antara keindahan fikih menurut manhaj Salaf adalah perhatian besar terhadap adab, di antaranya:

  • Ikhlas dalam menuntut dan mengamalkan ilmu
  • Tawadhu’ dan tidak merasa paling benar
  • Lapang dada dalam masalah ijtihadiyyah
  • Tidak mudah menyalahkan apalagi membid’ahkan tanpa ilmu

Fikih bukan sekadar mengetahui hukum halal dan haram, tetapi juga melatih akhlak dan kebijaksanaan.

Keutamaan dan Manfaat Mempelajari Ilmu Fikih

Orang yang mempelajari fikih dengan benar akan merasakan banyak manfaat, di antaranya:

  • Ibadah menjadi sah dan diterima
  • Terhindar dari bid’ah dan kesalahan
  • Hati menjadi tenang karena beramal di atas ilmu
  • Terbentuk sikap adil dan seimbang dalam beragama

Penutup: Berfikih dengan Ilmu dan Hikmah

Fikih adalah cahaya bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupannya. Namun cahaya itu hanya akan bersinar jika diambil dari sumber yang benar dan dipahami dengan pemahaman Salafush Shalih.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diberi taufik untuk memahami agama, mengamalkannya dengan ikhlas, dan mendakwahkannya dengan hikmah.

Wallahu a’lam.

Aqidah Islam: Pondasi Utama Keselamatan Seorang Muslim

Pendahuluan

Aqidah merupakan inti dari ajaran Islam. Ia adalah pondasi yang menentukan lurus atau rusaknya seluruh amal seorang hamba. Sebagus apa pun ibadah seseorang, jika aqidahnya rusak, maka amal tersebut terancam tertolak di sisi Allah ﷻ. Oleh karena itu, para ulama Salaf sangat menaruh perhatian besar terhadap pembahasan aqidah, bahkan mereka mendahulukannya sebelum ilmu-ilmu yang lain.

Imam Ahmad رحمه الله berkata:

“Pokok-pokok sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa yang dipegang oleh para sahabat Rasulullah ﷺ.”

Ini menunjukkan bahwa aqidah yang benar adalah aqidah yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana dipahami oleh para sahabat, tabi’in, dan para ulama Salaf.


Pengertian Aqidah

Secara bahasa, aqidah berasal dari kata ‘aqada yang berarti mengikat dengan kuat. Secara istilah, aqidah adalah keyakinan yang tertanam kuat di dalam hati, yang tidak bercampur dengan keraguan.

Aqidah Islam berarti keyakinan yang pasti terhadap Allah ﷻ, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir yang baik dan buruk, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.


Sumber Aqidah yang Benar

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dibangun di atas dua sumber utama:

  1. Al-Qur’an
  2. As-Sunnah yang shahih

Dengan pemahaman Salafush Shalih, yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Bukan berdasarkan logika semata, mimpi, perasaan, atau tradisi yang tidak memiliki dalil.

Allah ﷻ berfirman:

“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.”
(QS. An-Nisa: 59)


Urgensi Mempelajari Aqidah

Mempelajari aqidah bukan sekadar ilmu teori, namun kebutuhan setiap Muslim. Di antara urgensinya:

  1. Menjadi sebab diterimanya amal
    Tauhid adalah syarat utama diterimanya ibadah.
  2. Menjaga dari kesyirikan dan bid’ah
    Aqidah yang benar menjadi benteng dari penyimpangan.
  3. Menentramkan hati
    Orang yang mengenal Rabb-nya dengan benar akan hidup dengan hati yang tenang.
  4. Menyatukan umat di atas kebenaran
    Aqidah Salaf menyatukan, sedangkan hawa nafsu dan bid’ah memecah belah.

Pokok-Pokok Aqidah Ahlus Sunnah

Secara ringkas, aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah meliputi:

  • Mentauhidkan Allah dalam rububiyyah, uluhiyyah, dan asma wa sifat
  • Beriman kepada seluruh rukun iman
  • Menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datang dalam Al-Qur’an dan Sunnah tanpa tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil
  • Mencintai para sahabat Nabi ﷺ dan menjauhi sikap ghuluw maupun merendahkan mereka
  • Taat kepada penguasa Muslim dalam perkara yang ma’ruf
  • Berpegang teguh pada sunnah dan menjauhi bid’ah

Manhaj Salaf dalam Beragama

Manhaj Salaf adalah cara beragama yang paling selamat. Ia bukan kelompok baru, bukan pula madzhab tertentu, melainkan Islam yang murni sebagaimana diamalkan oleh generasi terbaik umat ini.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka siapa yang ingin selamat, hendaknya ia menempuh jalan mereka.


Penutup

Aqidah bukan hanya untuk dipelajari, namun untuk diamalkan dan dijaga sepanjang hayat. Di tengah maraknya penyimpangan pemikiran dan derasnya arus informasi, kembali kepada aqidah Salaf adalah jalan keselamatan.

Semoga Allah ﷻ meneguhkan kita di atas aqidah yang lurus hingga akhir hayat, mengumpulkan kita bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Tauhid dalam Islam: Fondasi Kehidupan Seorang Muslim

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

Pendahuluan

Tauhid adalah inti ajaran Islam dan poros seluruh amal ibadah. Seluruh nabi dan rasul diutus dengan satu seruan yang sama: mengesakan Allah ﷻ dalam segala bentuk ibadah. Tanpa tauhid yang benar, amal sebesar apa pun tidak akan bernilai di sisi Allah. Karena itu, pembahasan tauhid bukan sekadar teori, namun kebutuhan mendasar bagi setiap muslim yang menginginkan keselamatan dunia dan akhirat.

Di tengah banyaknya pemahaman agama yang bercampur dengan tradisi, filsafat, dan hawa nafsu, mempelajari tauhid sesuai Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman salafus shalih menjadi semakin penting. Artikel ini akan membahas pengertian tauhid, pembagiannya, dalil-dalilnya, serta urgensi mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.


Pengertian Tauhid

Secara bahasa, tauhid berasal dari kata wahhada–yuwahhidu yang berarti mengesakan. Adapun secara istilah syar’i, tauhid adalah mengesakan Allah ﷻ dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya, baik dalam rububiyyah, uluhiyyah, maupun asma’ dan sifat-Nya.

Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjelaskan bahwa tauhid bukan sekadar pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta. Tauhid menuntut penghambaan total, lahir dan batin, dengan memurnikan seluruh bentuk ibadah hanya kepada Allah semata.


Pembagian Tauhid

Para ulama membagi tauhid menjadi tiga bagian, bukan untuk memecah agama, melainkan sebagai metode ilmiah agar mudah dipahami dan diajarkan.

1. Tauhid Rububiyyah

Tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya, seperti mencipta, mengatur, memberi rezeki, menghidupkan, dan mematikan. Allah ﷻ berfirman:

“Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)

Kaum musyrikin Quraisy pun mengakui tauhid rububiyyah ini. Namun pengakuan tersebut belum menjadikan mereka muslim, karena mereka tidak mentauhidkan Allah dalam ibadah.

2. Tauhid Uluhiyyah

Tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam seluruh bentuk ibadah, seperti doa, shalat, sujud, tawakkal, takut, harap, dan penyembelihan. Inilah inti dakwah para rasul.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (QS. An-Nisa: 36)

Tauhid uluhiyyah menuntut seorang muslim untuk tidak mengarahkan ibadah kepada selain Allah, baik kepada nabi, wali, kuburan, jin, maupun makhluk lainnya.

3. Tauhid Asma’ wa Sifat

Tauhid asma’ wa sifat adalah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tanpa tahrif (menyimpangkan), ta’thil (menolak), takyif (menanyakan bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan dengan makhluk).

Allah ﷻ berfirman:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)


Tauhid sebagai Tujuan Penciptaan

Allah ﷻ tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Allah berfirman:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ibadah yang dimaksud dalam ayat ini adalah ibadah yang dibangun di atas tauhid. Oleh karena itu, tauhid bukan sekadar salah satu cabang ilmu, tetapi tujuan utama kehidupan seorang muslim.


Keutamaan Tauhid

Tauhid memiliki kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Di antara keutamaannya:

  1. Menghapus dosa – Tauhid yang murni dapat menghapus dosa-dosa.
  2. Sebab masuk surga – Barangsiapa meninggal dalam keadaan mentauhidkan Allah, ia berhak mendapatkan surga.
  3. Mendatangkan ketenangan hati – Orang yang bertauhid tidak bergantung kepada makhluk.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang akhir ucapannya ‘lā ilāha illallāh’, maka ia masuk surga.” (HR. Abu Dawud)


Syirik: Lawan dari Tauhid

Syirik adalah mempersekutukan Allah dalam ibadah. Syirik merupakan dosa terbesar yang tidak akan diampuni apabila pelakunya meninggal tanpa taubat.

Allah ﷻ berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48)

Syirik terbagi menjadi syirik besar dan syirik kecil. Syirik besar mengeluarkan pelakunya dari Islam, sedangkan syirik kecil merusak kesempurnaan tauhid dan sangat berbahaya.


Implementasi Tauhid dalam Kehidupan

Tauhid bukan hanya diucapkan, tetapi harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya:

  • Berdoa hanya kepada Allah
  • Bertawakkal hanya kepada Allah
  • Mengikhlaskan amal hanya karena Allah
  • Menjauhi jimat, ramalan, dan praktik kesyirikan

Seorang muslim yang bertauhid akan menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya, bukan dunia atau pujian manusia.


Penutup

Tauhid adalah fondasi agama Islam. Dengannya, amal menjadi bernilai dan kehidupan memiliki arah yang jelas. Setiap muslim wajib mempelajari tauhid dengan benar dan mengamalkannya dengan penuh keikhlasan.

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menjaga tauhid hingga akhir

Mari perkuat aqidah kita dengan mempelajari pembahasan tauhid dan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah lainnya di Ma’had Ibnu Rajab. Dukung dakwah dan pendidikan Islam agar generasi muslim tumbuh di atas tauhid yang lurus.


FAQ

Apa itu tauhid secara singkat?
Tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah, keyakinan, dan penetapan nama serta sifat-Nya.

Mengapa tauhid sangat penting?
Karena tauhid adalah syarat diterimanya seluruh amal ibadah.

Menjaga Lisan dalam Islam: Cermin Akhlak Seorang Muslim

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

Pendahuluan

Menjaga lisan merupakan bagian penting dari akhlak seorang muslim. Banyak kerusakan dan permusuhan bermula dari lisan yang tidak terjaga.

Pengertian Menjaga Lisan

Menjaga lisan berarti menahan diri dari ucapan yang tidak bermanfaat, dusta, ghibah, dan ucapan yang menyakiti orang lain.

Dalil tentang Menjaga Lisan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dampak Menjaga Lisan

Menjaga lisan melahirkan ketenangan hati, mempererat ukhuwah, dan mendatangkan ridha Allah.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Meremehkan ucapan kecil tanpa menyadari bahwa setiap kata akan dipertanggungjawabkan.

Penutup

Lisan adalah amanah. Siapa yang menjaganya, Allah akan menjaganya.

Baca juga artikel akhlak Islami lainnya di kategori Akhlak & Adab agar kita semakin memperbaiki diri.

FAQ

Mengapa menjaga lisan penting?
Karena lisan bisa menjadi sebab keselamatan atau kebinasaan.

Wudhu dalam Islam: Pengertian, Syarat, dan Tata Caranya

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

Pendahuluan

Wudhu adalah syarat sah shalat. Ibadah shalat tidak akan diterima tanpa wudhu yang benar sesuai tuntunan syariat.

Pengertian Wudhu

Wudhu adalah bersuci dengan menggunakan air pada anggota tubuh tertentu dengan niat menghilangkan hadats kecil.

Dalil tentang Wudhu

Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak melaksanakan shalat maka basuhlah wajah kalian…” (QS. Al-Ma’idah: 6)

Tata Cara Wudhu

Tata cara wudhu meliputi niat di dalam hati, membasuh wajah, kedua tangan, mengusap kepala, dan membasuh kedua kaki.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Di antaranya adalah tidak meratakan air ke anggota wudhu atau tergesa-gesa tanpa tuma’ninah.

Penutup

Wudhu yang sempurna merupakan kunci diterimanya shalat seorang muslim.

Pelajari juga pembahasan fikih ibadah lainnya di kategori Fikih Ibadah di website ini.

FAQ

Apakah wudhu wajib sebelum shalat?
Ya, wudhu adalah syarat sah shalat.


Tauhid dalam Islam: Pengertian, Dalil, dan Kedudukannya

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

Pendahuluan

Tauhid adalah asas utama dalam agama Islam dan inti dari seluruh dakwah para nabi. Tidak ada amal yang diterima tanpa tauhid yang benar. Oleh karena itu, memahami tauhid dengan pemahaman yang lurus merupakan kewajiban setiap muslim.

Pengertian Tauhid

Tauhid secara istilah adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam rububiyyah, uluhiyyah, serta asma’ dan sifat-Nya, tanpa menyerupakan, menolak, atau menyimpangkan maknanya.

Dalil Al-Qur’an dan Hadits

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia.” (QS. Al-Baqarah: 163)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Hak Allah atas hamba-Nya adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan Ulama

Syaikh Muhammad At Tamimi رحمه الله menjelaskan bahwa tauhid adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Sebagian kaum muslimin memahami tauhid sebatas keyakinan dalam hati, namun lalai memurnikan ibadah seperti doa dan tawakkal hanya kepada Allah.

Manfaat Mengamalkan Tauhid

Tauhid yang benar melahirkan ketenangan hati, keikhlasan amal, dan keselamatan di dunia serta akhirat.

Penutup

Tauhid adalah pondasi agama. Barangsiapa menjaganya, maka ia telah menjaga agamanya.

Baca juga pembahasan aqidah lainnya di kategori Aqidah Islam agar pemahaman tauhid kita semakin lurus.

FAQ

Apa itu tauhid dalam Islam?
Tauhid adalah mengesakan Allah dalam ibadah dan keyakinan.

Adab Penuntut Ilmu: Kunci Keberkahan dalam Belajar

(Pelajaran dari Kitab Ta‘līm al-Muta‘allim)

Menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat mulia dalam Islam. Namun, para ulama menegaskan bahwa ilmu tidak akan memberi manfaat tanpa adab. Inilah pesan utama yang ditekankan dalam kitab Ta‘līm al-Muta‘allim, sebuah kitab klasik yang sejak lama dijadikan rujukan dalam pendidikan Islam.

Imam Az-Zarnuji رحمه الله menjelaskan bahwa keberhasilan seorang penuntut ilmu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi sangat bergantung pada akhlak, niat, dan adabnya dalam menuntut ilmu.

Meluruskan Niat dalam Menuntut Ilmu

Adab pertama dan paling utama adalah meluruskan niat. Ilmu hendaknya dipelajari untuk mencari ridha Allah Ta’ala, menghilangkan kebodohan dari diri sendiri dan orang lain, serta menghidupkan agama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Niat yang ikhlas akan menjadikan ilmu membawa keberkahan, menumbuhkan kerendahan hati, dan mendekatkan seorang hamba kepada Allah.

Memuliakan Guru dan Menghormati Ilmu

Dalam Ta‘līm al-Muta‘allim, Imam Az-Zarnuji رحمه الله sangat menekankan adab kepada guru. Menghormati guru, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, serta tidak meremehkan nasihat adalah sebab terbukanya pintu pemahaman.

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه berkata:

“Aku adalah hamba bagi orang yang mengajarkanku satu huruf.”

Memuliakan guru sejatinya adalah bentuk memuliakan ilmu itu sendiri. Dari adab inilah lahir ilmu yang bermanfaat dan membekas dalam amal.

Bersungguh-sungguh dan Bersabar dalam Menuntut Ilmu

Ilmu tidak diraih dengan kemalasan. Imam Az-Zarnuji رحمه الله mengingatkan pentingnya kesungguhan, kesabaran, dan ketekunan dalam belajar. Kesulitan dan kelelahan dalam menuntut ilmu adalah bagian dari jalan para ulama.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)

Kesabaran dalam belajar akan membuahkan pemahaman yang dalam dan akhlak yang matang.

Menjaga Akhlak dan Perilaku Sehari-hari

Penuntut ilmu dituntut untuk menjaga akhlaknya dalam ucapan dan perbuatan. Rendah hati, menjauhi maksiat, serta menjaga adab kepada sesama adalah bagian dari menjaga kehormatan ilmu.

Ilmu sejati bukan hanya yang dihafal, tetapi yang tercermin dalam sikap dan perilaku. Inilah sebab mengapa para ulama dahulu lebih memperhatikan adab sebelum banyaknya hafalan.


🔘 Penutup

Ilmu yang disertai adab akan melahirkan pribadi yang bermanfaat bagi umat.

Aqidah Dasar yang Wajib Diketahui Setiap Muslim

(Pelajaran dari Matan Abu Syuja’)

Kitab Matan Abu Syuja’ merupakan salah satu kitab fikih klasik yang sangat dikenal dalam mazhab Syafi‘i. Menariknya, kitab ini tidak langsung memulai dengan pembahasan hukum fikih, tetapi diawali dengan penegasan aqidah dasar yang wajib diketahui oleh setiap muslim.

Hal ini menunjukkan bahwa para ulama sangat memahami bahwa ibadah dan hukum syariat tidak akan benar tanpa aqidah yang lurus.

Kewajiban Mempelajari Aqidah

Dalam pembukaan Matan Abu Syuja’, disebutkan bahwa perkara pertama yang wajib atas setiap mukallaf adalah mengetahui apa yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah Ta’ala, serta mengetahui Rasul-Nya ﷺ.

Ini menegaskan bahwa mempelajari aqidah bukan perkara tambahan, melainkan kewajiban pribadi (fardhu ‘ain) bagi setiap muslim.

Allah Ta’ala berfirman:

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.”
(QS. Muhammad: 19)

Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu tentang tauhid didahulukan sebelum ucapan dan amal.

Mengenal Allah Ta’ala

Aqidah yang diajarkan dalam Matan Abu Syuja’ menekankan pengenalan terhadap Allah Ta’ala, bahwa Allah:

  • Maha Esa
  • Tidak menyerupai makhluk
  • Ada tanpa permulaan dan tanpa akhir
  • Maha Kuasa atas segala sesuatu

Pengenalan ini bertujuan agar seorang muslim beribadah kepada Allah dengan keyakinan yang benar, jauh dari syirik dan penyimpangan dalam keyakinan.

Mengenal Rasulullah ﷺ

Selain mengenal Allah, setiap muslim juga wajib mengenal Rasulullah ﷺ sebagai utusan Allah terakhir. Beriman kepada Rasulullah ﷺ mencakup membenarkan risalah yang beliau bawa, menaati perintahnya, dan menjauhi larangannya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.”
(QS. Al-Hasyr: 7)

Tanpa mengikuti Rasulullah ﷺ, ibadah seorang hamba tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala.

Aqidah sebagai Pondasi Fikih dan Ibadah

Diletakkannya aqidah di awal Matan Abu Syuja’ memberi pelajaran penting bahwa fikih dan amal ibadah harus dibangun di atas keyakinan yang benar. Aqidah yang lurus melahirkan ibadah yang sah, khusyuk, dan bernilai di sisi Allah.

Inilah metode pendidikan ulama: memulai dengan pembenahan keyakinan, lalu membimbing umat dalam tata cara ibadah dan muamalah.


🔘 Penutup

Aqidah yang benar adalah kunci diterimanya amal dan lurusnya ibadah.

Tiga Landasan Utama yang Wajib Diketahui Setiap Muslim

Di antara kitab aqidah yang sangat ringkas namun sarat makna adalah Ushul Ats-Tsalatsah. Kitab ini membahas tiga landasan utama yang wajib diketahui, dipahami, dan diamalkan oleh setiap muslim. Tiga perkara ini menjadi bekal paling mendasar dalam kehidupan seorang hamba, bahkan akan menjadi pertanyaan di alam kubur.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab رحمه الله memulai kitab ini dengan menegaskan bahwa menuntut ilmu terhadap tiga perkara ini adalah kewajiban bagi setiap muslim.

1️⃣ Mengenal Allah Ta’ala

Landasan pertama adalah mengenal Allah, yaitu mengenal Rabb yang telah menciptakan, memberi rezeki, dan mengatur seluruh kehidupan manusia. Mengenal Allah bukan sekadar mengetahui keberadaan-Nya, tetapi mengenal-Nya melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta mengesakan-Nya dalam seluruh bentuk ibadah.

Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai manusia, sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 21)

Mengenal Allah akan melahirkan rasa cinta, takut, harap, dan tawakal kepada-Nya. Inilah dasar tauhid yang menjadi inti dari seluruh ajaran Islam.

2️⃣ Mengenal Agama Islam dengan Dalil

Landasan kedua adalah mengenal agama Islam dengan dalil, yaitu berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk dengan ketaatan, serta berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya.

Islam dibangun di atas tiga tingkatan: Islam, Iman, dan Ihsan. Ketiganya saling berkaitan dan menjadi panduan seorang muslim dalam beribadah kepada Allah dengan benar.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)

Mengenal Islam dengan dalil menjadikan seorang muslim beribadah dengan ilmu, bukan sekadar tradisi atau ikut-ikutan.

3️⃣ Mengenal Nabi Muhammad ﷺ

Landasan ketiga adalah mengenal Nabi Muhammad ﷺ, utusan Allah terakhir yang membawa risalah Islam. Mengenal Nabi ﷺ mencakup mengenal nasab beliau, risalah yang dibawa, serta kewajiban untuk menaati dan meneladani beliau.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Mengikuti Rasulullah ﷺ adalah konsekuensi dari keimanan. Tidak ada jalan menuju ridha Allah kecuali dengan mengikuti petunjuk beliau.

Pentingnya Mempelajari Tiga Landasan Ini

Tiga landasan ini bukan sekadar teori, tetapi pondasi hidup seorang muslim. Siapa yang memahaminya dengan benar, maka ia akan kokoh dalam beragama, tenang dalam beribadah, dan selamat dari berbagai penyimpangan aqidah.

Para ulama salaf sangat menekankan pembelajaran aqidah sejak awal. Karena aqidah yang lurus adalah kunci diterimanya amal dan keselamatan di dunia serta akhirat.


🔘 Penutup

Menanamkan aqidah yang lurus adalah langkah awal membangun iman yang kokoh.